Monday, August 27, 2012

Surat Kepada Pawana

Surat Kepada Pawana

Malam tidak pernah terlalu dingin
Namun berkali-kali kata-kataku beku
Kaku
Kertas-kertasku telanjang kelu
Bisu

Bahkan waktu pun menari
Memanggil dengan detik emosi
Dentangnya menanti
Lagi

Kepada pawana..
Sempat aku mencoba menyapa
Klise aku bertanya
Bahagiakah engkau disana

Entah bagaimana
Kau ada
Semu jauh meraba
Setia

Seharusnya lama kusadari
Sejak berusaha mengingkari
Kincir yang tak berputar lagi
Kembali

Maafkan aku pawana
Untuk jutaan kata yang membeku
Untuk kertas-kertas yang kelu
Telanjang dan membisu
Disana kusimpan segala deru

Maafkan aku pawana
Untuk setiap lelah malam berliku
Pertanyaanku hanya satu
Disana kusisipkan luapan rindu

Aku..

26 Agustus 2012 (surat ketika tidak hanya malam yg membatasi..)


( Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata 
Cuma kini
Tinggal sunyi
Dan, waktu perlahan mati
 —— Partikel by Dee )


6 comments:

satriyo pramono said...

ini toh puisi yg lu maksud..haha..gw kaget ternyata lu bisa merangkai kata2 sampe jadi puisi..walopun gw ga ngerti seni puisi,tp gw bisa bilang ini bagus.. ;)

Jessica Valerie 張愫嘉 said...

Wow..cepet bgt uda dikomen lagi..thx btw ^^ silakan mampir ke puisi lainnya..hehe..

willnosm aileron said...

ahh, pawana. terasa .... kesan rindu dan kesedihan...

Christiyani said...

dari puisi tinggal dibikin lagu nih...hihihi XD

murid pemalas ^^ said...

hmm.. good enough :p
cukup menyentuh XD

Anonymous said...

hmm.. puisi tentang kerinduan kepada seseorang yang pernah dikasihi ya bu? :)

Post a Comment